somaphilia

me and my rumblings

Membongkar Kekeliruan Berpikir tentang Homo Economicus

Posted by iriwij on March 22, 2009

(ini merupakan makalah pengantar untuk kuliah umum bertemakan Homo Economicus yang diberikan di Fak. Filsafat Unpar pada 20 Maret 2009)

 

 

MEMBONGKAR KEKELIRUAN BERPIKIR TENTANG HOMO ECONOMICUS

 

Makalah Pengantar Kuliah Homo Economicus

 

 

Irianto Wijaya

 

 

 

            Homo Economicus – gambaran tentang manusia yang menjadi basis analisis ilmu ekonomi – bukanlah konsep yang diapresiasi oleh kebanyakan orang di luar komunitas ekonom, apalagi di negeri ini. Ia umumnya dianggap memberikan gambaran tentang manusia yang tidak saja jelas-jelas keliru, tetapi juga berbahaya, seperti yang pernah dikeluhkan oleh Marmeladov, salah satu tokoh dalam novel Crime and Punishment-nya Dostoevsky, berikut ini: “…compassion is forbidden nowadays by science itself, and that’s what is done now in England, where there is political economy.”[1] Ada kecemasan bahwa, dengan berpijak pada asumsi bahwa orang-orang itu egois, serakah, dan materialistis, analisis ilmu ekonomi secara tidak langsung sedang berusaha membenarkan sifat-sifat tersebut, sebagaimana yang disampaikan oleh Karl Marx dulu, “the only wheels which political economy sets in motion are greed.”[2] Malangnya, antipati umum terhadap homo economicus di atas sendiri berangkat dari suatu kekeliruan berpikir; kekeliruan yang memang hanya bisa disadari dengan kerja pikiran yang sedikit keras.

            Mari mulai dari kekeliruan yang paling mudah disadari, yakni kekeliruan historis. Apa maksudnya? Semenjak awal abad 20 ciri esensial dari homo economicus sudah bukan lagi egoisme dan keserakahan, melainkan daya rasionalitasnya yang tinggi, yang ditunjukkan oleh kemampuan untuk menyusun keinginannya secara konsisten dan lengkap dan kemampuan untuk tahu segala cara yang tersedia untuk memuaskan keinginannya itu. Poin ini, misalnya, ditekankan oleh Gary Becker dalam pidato nobelnya pada tahun 1992, yakni bahwa “the economic approach…does not assume that individuals are motivated solely by selfishness or gain…The analysis assumes that individuals maximize welfare as they conceive it, whether they be selfish, altruistic, loyal, spiteful or masochistik.”[3] Banyak orang, saya lihat, masih terjebak dalam kekeliruan tipe ini, di mana konsep homo economicus yang mereka pegang sudah ketinggalan zaman.

            Akan tetapi, bukan kekeliruan historis itu yang menjadi masalah utama kita. Antipati yang serupa juga dapat diberikan pada homo economicus dalam bentuk kontemporernya di atas, yakni bahwa gambaran yang diberikannya tentang manusia pun jelas-jelas salah, sebagaimana telah dibuktikan oleh berbagai studi psikologi tentang keterbatasan rasionalitas manusia. Dengan demikian, kalau yang jadi masalah hanyalah kekeliruan historis di atas, maka pada akhirnya homo economicus tetap akan dipandang sebagai konsep yang tidak bernilai sama sekali bagi kita. Lebih jauh dari itu, juga dapat ditambahkan bahwa ilmu ekonomi yang berpijak pada asumsi yang salah tentang manusia pun bukanlah ilmu yang dapat diandalkan; bahwa satu-satunya cara untuk “menyelamatkan” atau “memperbaiki” ilmu ekonomi adalah dengan mendasarkannya pada konsepsi manusia yang lebih tepat, yang mengacu pada temuan-temuan empiris dari studi psikologi.[4]

            Kekeliruan berpikir yang lebih fundamental, dan, sialnya, juga lebih sulit untuk dideteksi, adalah apa yang saya sebut kekeliruan metodologis. Kekeliruan ini lahir dari ketidaktelitian kita untuk melihat bahwa, dalam ilmu pengetahuan, ketika suatu benda, apapun itu, dikatakan memiliki keyakinan, kehendak, ataupun daya rasionalitas tertentu, ia sama sekali tidak peduli apakah kondisi-kondisi mental itu memang dipegang oleh si benda sebagaimana kondisi mental itu dipegang dan digunakan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Yang dipedulikannya hanyalah kemampuan dari suatu klaim seperti “benda x memiliki kondisi mental y” untuk memberikan prediksi yang tepat akan respon tertentu dari si x terhadap gejala-gejala tertentu.

            Sebuah illustrasi sederhana dapat diberikan dengan mengamati apa yang kita lakukan ketika bermain game catur melawan komputer dengan mengatakan, “Awas! Kita harus hati-hati sebab komputer sedang mau menyudutkan raja kita.” Di sini, “kehendak” dari si komputer kita gunakan hanya sebagai dasar untuk memprediksi langkah berikutnya dari si komputer sebagai respon dari langkah kita di dalam permainan catur. Kita tidak akan menyimpulkan bahwa si komputer akan marah, sedih, atau kecewa kalau keinginannya tidak tercapai, ataupun bahwa ia akan senang atau bangga jika keinginannya itu terpenuhi. Respon-respon semacam ini, yang dalam konteks keseharian memang relevan untuk diperhatikan saat kita bicara soal apakah seseorang memang memiliki kondisi mental tertentu, tidaklah kita anggap relevan ketika bicara tentang “kondisi mental” dari komputer di atas. Hal inilah yang juga terjadi pada ilmu pengetahuan.

            Poin itu sangat penting bagi kita untuk memahami berbagai perkembangan mutakhir dalam ilmu pengetahuan. Ketika biolog-evolusioner seperti Richard Dawkins bicara tentang gen yang egois (selfish genes), misalnya, ia tidaklah bermaksud untuk mengatakan bahwa kehendak untuk egois itu dimiliki oleh si gen dalam pengertian kita sehari-hari. Kita juga jadi bisa memahami klaim kontroversial dari John McCarthy, salah seorang pionir studi Artificial Intelligence, bahwa benda sesimpel termostat pun dapat dikatakan memiliki keyakinan! Apa saja? Ini jawabnya: “my thermostat has three beliefs. My thermostat believes it’s too hot in here, it’s too cold in here, and it’s just right in here.”[5] Semua klaim itu jadi masuk akal ketika kita sadar bahwa kepemilikan “kondisi mental” dari suatu benda yang diklaim oleh sains di atas tidak punya implikasi yang kompleks seperti ketika kita bicara soal kondisi mental orang dalam kehidupan sehari-hari (sebagaimana yang ditunjukkan pada illustrasi di atas).

            Dengan demikian, ketika sains mengatakan, misalnya, bahwa “gen itu egois,” harus dipahami bahwa “memiliki” sifat egois di situ tidaklah sama artinya dengan “memiliki” sifat egois dalam pengertian sehari-hari. Begitu pula dengan homo economicus. Baik dalam formulasi modern maupun klasiknya, ia sama sekali tidak mengklaim bahwa orang itu entah “egois” ataupun “rasional” dalam pengertian kita sehari-hari. Ketika homo economicus mengklaim orang itu “egois” atau “rasional,” yang dimaksud sebetulnya serupa dengan ketika kita mengklaim bahwa program komputer yang menjadi lawan main catur kita “memiliki kehendak untuk memenangkan permainan.”

            Oleh karena itu, berbagai usaha untuk membuktikan bahwa homo economicus itu salah dengan mengumpulkan bukti-bukti akan altruisme ataupun irasionalitas manusia, misalnya dengan menunjukkan pengorbanan orang tua untuk anaknya, sebetulnya tidak relevan. Ini sama tidak relevannya dengan usaha orang untuk menyangkal bahwa komputer program catur tadi tidaklah memiliki “kehendak untuk menang” dengan memperlihatkan bahwa komputer itu tidak mampu menunjukkan kegembiraannya kalau menang, dan kekecewaannya bila kalah.[6]

            “Egoisme” ataupun “rasionalitas” manusia yang diperhitungkan oleh ilmu ekonomi hanyalah yang diperlukan demi menghasilkan hipotesis tentang respon sosial terhadap beragam fenomena yang menjadi perhatian. Misalnya, apa yang akan terjadi pada permintaan atas suatu barang ketika harga barang itu meningkat; apa efek dari hukuman mati bagi angka kejahatan; apa pengaruh sistem tunjangan hari tua bagi kesejahteraan anak; atau, apa pengaruh legalisasi aborsi pada angka kejahatan? Kalau konsep homo economicus itu mau diuji, maka ia hanya bisa diuji berdasarkan kualitas dari hipotesis-hipotesis yang dihasilkannya tersebut.

            Setelah memahami tipe kekeliruan berpikir yang amat halus ini, barulah kita nantinya dapat menangkap dengan baik tidak saja nilai dari konsep homo economicus itu bagi kehidupan kita, tetapi juga keterbatasan-keterbatasannya.



[1] Fyodor Dostoevsky. 2000. Crime and Punishment. London: Wordsworth Classics. Hlm. 13.

[2] Karl Marx. “Selected Texts on Economics, History, and Social Science.” Dalam Daniel M. Hausman (ed.). 2007. The Philosophy of Economics: an Anthology (third edition). Hlm. 109.

[3] Lih. Becker, Gary. 1992. “The Economic Way of Looking at Life.” Nobel Lecture, 9 Desember, 1992.   Hlm. 38.

[4] Usaha untuk mendasarkan ilmu ekonomi pada ilmu psikologi merupakan inti pikiran dari aliran behavioral economics yang lahir pada pertengahan abad 20 dengan dimotori oleh orang-orang seperti Herbert A. Simon, Daniel Kahneman, dan Richard Thaler.

[5] Lebih jauh tentang klaim McCarthy lih. Blackmore, Susan. 2004. Consciousness. Oxford: Oxford University Press. Hlm. 214.

[6] Poin itu saya kira adalah poin yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Milton Friedman, seorang ekonom-filsuf yang sangat terkemuka, ketika dalam esai pentingnya di tahun 1953, “The Methodology of Positive Economics,” ia menegaskan bahwa “realisme” dari asumsi homo economicus tidaklah relevan untuk menjadi dasar untuk mengukur validitas dari ilmu ekonomi. Sayangnya, ia menggunakan penjelasan dan argumen yang tidak terlalu kuat, dan, oleh karenanya, kurang diapresiasi oleh publik akademis. 

One Response to “Membongkar Kekeliruan Berpikir tentang Homo Economicus”

  1. iriwij said

    diskusi tentang tulisan ini juga berjalan di http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=79012055188

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.