somaphilia

me and my rumblings

Kontinuum Ilmu Pengetahuan

Posted by iriwij on March 28, 2009

Paper untuk Seminar “Merayakan Filsafat”, 27 Maret 2009; seminar yg ditujukan untuk merayakan dua event, yakni ultah Departemen Filsafat UI dan ultah Richard Dawkins

 

 

KONTINUUM ILMU PENGETAHUAN

 

 

Irianto Wijaya

 

 

Names of disciplines should be seen only as technical aids in the organization of curricula and libraries; a scholar is better known by the individuality of his problems than by the name of his discipline. (Quine, 1981)

 

 

            Ribuan tahun sejarah ilmu pengetahuan umat manusia telah dicirikan oleh berbagai distingsi yang dianggap berlaku secara kategoris; bahwa temuan pada satu bidang ilmu tertentu tidak akan punya relevansi apapun untuk problem yang dihadapi pada kategori ilmu yang lain. Dengan demikian, ilmuwan di satu bidang ilmu tertentu hanya kompeten untuk menjawab problem pada bidang ilmu itu. Beberapa distingsi itu masih bertahan di antara kita hingga sekarang, dan tak sedikit yang akan dengan gigih mempertahankannya.

            Akan tetapi, salah satu implikasi radikal dari kesuksesan Darwinisme, yang akan ditarik oleh Richard Dawkins dengan antusias, adalah bahwa segala eksklusivisme ilmiah itu tidak berdasar sama sekali. Ia radikal karena benar-benar tidak ada distingsi kategoris yang ia sisakan. Perbedaan yang dapat ditarik di antara ilmu hanyalah perbedaan gradual/kontinuum. Ini membuatnya lebih radikal daripada proyek “kesatuan ilmu” dari positivisme logis dahulu sekalipun, yang masih menyisakan separasi ketat antara ilmu formal dan ilmu empiris.[1]

            Pada paper ini saya akan menjelaskan mengapa berbagai distingsi yang masih bertahan di antara kita saat ini tidak akan lagi dapat dipertahankan di hadapan fakta-fakta baru yang tersingkap berkat Darwinisme. Ada tiga jenis distingsi yang masih populer dipegang, yaitu ilmu alam vs ilmu sosio-kultural, ilmu faktual vs ilmu normatif, ilmu formal vs ilmu empiris. Saya akan singkat membahasnya satu persatu.

 

Ilmu Alam vs Ilmu Sosio-Kultural

            Dasar dari pemisahan ini sebenarnya simpel: karena apa yang menjadi objek studi utama dari ilmu sosio-kultural diyakini bukanlah natural being. Manusia dilihat sebagai makhluk dualistik, terdiri dari aspek material (tubuh) dan rohaniah (kesadaran), di mana urusan ilmu sosio-kultural hanyalah dengan fenomena-fenomena yang berhubungan dengan kesadaran manusia, bahkan bisa dipersempit lagi, seperti pada paradigma Durkhemian, pada kesadaran kolektif manusia. Dualisme itu tidak saja membuat seluruh hasil studi ilmu alam tentang manusia menjadi tidak relevan bagi ilmu sosio-kultural, tetapi juga memberikan respectability yang tinggi pada ilmu sosio-kultural.

            Dualisme itu sendiri hanya respectable ketika kita tidak punya cara lain untuk menjelaskan eksistensi kesadaran selain dengan mengasumsikan adanya “roh” (soul); yang dengan sendirinya mengimplikasikan keberadaan Tuhan alias roh murni. Sekilas, memang sulit tampaknya menjelaskan fenomena kesadaran itu sebagai suatu hal yang timbul dari benda-benda materi. Namun, kesulitan itu hanyalah kesulitan yang bersumber dari fakta bahwa “kesadaran” merupakan apa yang disebut Marvin Minsky (2006), salah satu pionir studi Artificial Intelligence, sebagai suitcase-like word; kata yang dipakai untuk merujuk pada beranekaragam hal sekaligus. Pada kasus kesadaran, ia merujuk pada berbagai jenis fungsi mulai dari perhatian, memilih, mengidentifikasi, merencanakan, mengingat, memutuskan, merasakan, hingga menginginkan.

            Ketika kita mampu meng-break down fungsi-fungsi itu dan mempelajari relasinya dengan tubuh fisik kita, maka kesulitan dalam penjelasan pun akan mudah teratasi. Tidak saja kita sekarang memperoleh semakin banyak bukti tentang dasar material dari fungsi-fungsi itu pada sistem syaraf kita, seperti ditunjukkan oleh hasil studi neurologi seperti dari Damasio dan Ramachandran, namun kita juga semakin tahu bagaimana fungsi-fungsi itu dapat direalisasikan pada benda fisik yang lain daripada tubuh kita, sebagaimana ditunjukkan oleh riset-riset Artificial Intelligence, di mana salah satu prestasi monumentalnya adalah ketika pada tahun 1997 Deep Blue, komputer rakitan IBM, dapat mengalahkan Gary Kasparov dalam permainan catur (Kasparov adalah juara dunia catur saat itu yang hingga hari ini masih dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu pecatur terbaik yang pernah ada dalam sejarah umat manusia).

            Roh, dan, dengan sendirinya, Tuhan, tidaklah lagi diperlukan untuk menjelaskan keberadaan kesadaran. Hal ini punya implikasi penting pada perdebatan soal eksistensi Tuhan, yakni soal ada-tidaknya Tuhan tidak lagi dapat diputuskan dengan mengacu pada fakta-fakta (karena Darwinisme dapat menjelaskannya tanpa perlu mengasumsikan Tuhan), tetapi hanya bisa diputuskan dengan melihat baik-buruknya kepercayaan pada Tuhan itu bagi kemanusiaan. Runtuhnya dualisme materi-rohani itu jelas mengimplikasikan runtuhnya alasan satu-satunya di balik pemisahan yang ketat antara ilmu alam dan ilmu sosio-kultural.

 

Ilmu Faktual vs Ilmu Normatif

            “Anda tidak dapat menarik norma dari fakta!” Kalau anda tetap lakukan, anda akan terjebak pada kesesatan berpikir yang namanya naturalistic fallacy. Ini adalah poin yang kebenarannya tidak dapat disangkal ketika kita bicara tentang “norma” dalam bentuk murninya, baik ketika bicara norm of reasoning (epistemologi) ataupun norm of action (etika). Namun, Darwinisme menunjukkan bagaimana kebenaran itu hanyalah a useless truth. Mengapa demikian? Karena norma yang kita pedulikan ternyata tidaklah pernah norma dalam bentuk murni itu.

            Apa maksudnya? Pertama, norma yang kita pedulikan selalu punya prasyarat (prerequisites) faktual bagi berlakunya norma itu. Prasyarat paling utama adalah bahwa orang memang dapat memilih, tanpa kesulitan yang signifikan, untuk patuh pada norma itu. Dahulu, cukup dengan percaya pada “roh” yang menjamin eksistensi kebebasan kehendak yang sama pada semua orang, maka kita dapat meyakini dengan nyaman bahwa prasyarat itu sudah terpenuhi dengan mudah. Namun, ini merupakan kenyamanan yang palsu, sebab kapasitas memilih itu ternyata ditentukan oleh kondisi jasmaniah seseorang.

            Sebagai contoh sederhana, pada tahun 2003, Archives of Neurology mencatat kasus yang menarik, di mana seorang lelaki paruh baya asal Virginia, yang tidak punya catatan kriminal sama sekali sebelumnya, ditemukan mulai mengkoleksi pornografi anak dan, bahkan, mencabuli putri tirinya yang baru berusia 8 tahun. Setelah diperiksa, ternyata dia mengalami tumor pada area frontal otaknya, khususnya daerah Septum dan Hypothalmus, yang dikenal sebagai daerah yang mengatur perilaku seksual orang. Setelah tumornya diangkat, hasrat seksualnya kembali wajar. Beberapa bulan kemudian, ia sempat kembali mengejar anak-anak. Tetapi, setelah diperiksa lagi, ternyata tumornya memang tumbuh kembali.[2]

            Kedua, validitas dari suatu norma dapat saja mengacuhkan segala fakta ketika kita berurusan dengan apa yang disebut Immanuel Kant “imperatif kategoris,” di mana suatu kewajiban itu mewajibkan kita demi pemenuhan kewajiban itu sendiri. Ini berbeda dengan “imperatif hipotetis,” di mana suatu kewajiban hanya mewajibkan kita selama ia memang betul-betul akan membawa kita pada kondisi tertentu yang dijanjikan, seperti “anda harus berhenti merokok supaya sehat!”. Kalau ternyata saya bisa sehat dengan sambil merokok, maka norma tadi pun kehilangan validitasnya.

            Akan tetapi, sebagai natural being, kita tidak saja pantas meragukan eksistensi norma kategoris apapun dalam kehidupan kita (norma yang tetap valid terlepas dari kondisi kehidupan apapun yang dihasilkannya), sebagaimana yang sempat dipertanyakan habis-habisan oleh utilitarian seperti Richard Hare terhadap Immanuel Kant sendiri, tetapi, lebih dari itu, kita tidak lagi punya dasar untuk percaya pada kualitas dari norma-norma yang diklaim berlaku kategoris, walaupun klaim itu lahir dari refleksi yang jujur dan serius. Dengan kata lain, kita tidak punya jaminan bahwa apa yang ditangkap oleh rasionalitas kita sebagai mutlak baik atau mutlak benar memang benar-benar baik atau benar. Tidak ada lagi norma yang dapat dianggap valid a priori; semuanya tidak bisa bebas dari skrutinisasi akan konsekuensi faktualnya.

 

Ilmu Formal vs Ilmu Empiris

            Dasar dari distingsi ini adalah bahwa pada yang kedua kita bisa bicara tentang benar-salahnya suatu hipotesis pada ilmu itu, sedangkan pada yang pertama kita hanya bisa bicara tentang berguna-usangnya suatu sistem formal, misalnya pada logika atau matematika. Mengapa demikian? Karena diyakini bahwa pada ilmu formal, kita berurusan dengan pengetahuan yang tidak teruji oleh fakta apapun. Konsekuensinya adalah bahwa kita sesungguhnya sah untuk terus mempertahankan suatu sistem formal walaupun tidak jelas signifikansi empirisnya, karena sekedar “usang” tidak berarti suatu hal harus ditinggalkan; ia mungkin saja kembali “berguna” suatu hari nanti. Dengan kata lain, ada dogmatisme yang sah secara ilmiah untuk dipegang!

            Sepintas, distingsi itu mungkin tampak meyakinkan, namun kalau kita memperhatikan lebih telitik praktik “ilmu empiris,” seperti yang dulu diajak oleh Quine, maka kita akan lihat bahwa distingsi itu bersumber dari kesempitan berpikir dalam memahami “ujian empiris.” Tidak semua hipotesis pada ilmu empiris dapat diuji oleh fakta secara langsung, seperti pengetahuan tentang “besok akan hujan di kota Jakarta” akan diuji secara langsung oleh fakta hujan-tidaknya Jakarta besok hari. Sebaliknya, kita justru akan melihat bahwa hipotesis-hipotesis itu punya level “keterikatan nasib” yang berbeda-beda (germaneness) terhadap fakta; tergantung strategi yang dipegang oleh si ilmuwan. Tidak ada pengetahuan yang sepenuhnya “aman” dari ujian empiris sebenarnya, walaupun ia tidak langsung dibuktikan benar-salah oleh fakta apapun.

            Sebagai contoh historis, kita dapat melihat kasus “teori kalori” dalam ilmu fisika yang dulu diajukan Dalton untuk menjelaskan panas, di mana ini teori yang telah diakui sebagai teori yang salah oleh para fisikawan saat ini. Kalori itu sendiri adalah cairan (fluid). Problem yang pertama-tama ditemukan dengan teori ini adalah bahwa kalau kalori itu cairan dan kalori itu merupakan penyebab panas, maka bukankah seharusnya suatu benda dalam keadaan panas itu lebih berat daripada ketika ia dalam keadaan dingin? Namun, masalah ini terselesaikan cukup dengan menambahkan bahwa kalori adalah cairan yang spesial, yakni ia tidak punya massa apapun.

            Problem berikutnya ditemukan oleh Rumford, yakni kalau kalori itu adalah cairan yang menghantarkan panas, maka kalau suatu benda melulu dipanaskan-didinginkan-dipanaskan dengan digesekkan pada benda lain yang sama, bukankah cairan itu lama-lama akan habis? Bukankah akan ada titik di mana benda itu tidak bisa lagi dipanaskan? Terhadap masalah ini, jawaban pun bisa diberikan, yakni bahwa kalori cukup dipahami sebagai zat yang istimewa, yakni jumlahnya tak terbatas (infinite). Rumford sendiri tidak puas dengan jawaban semacam itu, meskipun masuk akal untuk diberikan, dan ia memilih untuk mengajukan teorinya sendiri tentang panas yang lebih simpel; yang kemudian diterima oleh publik akademis sebagai pengganti dari teori kalori.

            Dari contoh itu, kita bisa lihat bagaimana suatu teori empiris dapat dianggap salah dan ditinggalkan untuk selamanya, walaupun tidak pernah ada fakta yang langsung membantahnya! Kita bisa katakan di sini bahwa kriteria simplicity dan fruitfulness (kemampuan untuk menjadi basis bagi prediksi-prediksi empiris yang reliable) menjadi bentuk ujian empiris yang tidak dapat dihindari oleh teori yang abstrak sekalipun. Berdasarkan kriteria itulah kita dapat melihat mengapa teori seleksi alam unggul daripada kompetitornya, teori intelligent design.


[1] Lih. Rudolf Carnap. 1955. “Logical Foundations of the Unity of Science.” Dalam Boyd, dkk (ed.). 1997. The Philosophy of Science. Hlm. 395.

[2] Kasus ini saya peroleh dari Patricia Smith Churchland. 2006. “The Big Question: Do we have free will?”

One Response to “Kontinuum Ilmu Pengetahuan”

  1. dedy kurniawan setyoko said

    informasi yang sangat berharga

    Nice blog

    jangan lupa kunjungi juga http://kurniafisika.wordpress.com

    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.