Tolong dikoreksi kalau ingatan gue salah: Beberapa tahun yang lalu, sebuah toko perhiasan di dalam Plaza Senayan dirampok di tengah keramaian. trus, ada jg seorang tukang ojek di Bogor dibunuh sekaligus dirampok. blom lagi pendeta di Palu dihabisi nyawanya. uda gitu ada kasus adiguna, yg ngerasa dirinya kayak hilton ranger. Untunglah beberapa hari ini gue jarang nonton berita.
Apa yang ingin ditunjukkan di sini? Lelucon!! Semua pelaku kejahatan tadi punya satu ciri yang sama, mereka sama-sama pegang senjata api, dan semua korban kejahatan punya satu karakteristik yang sama, mereka sama-sama tidak memegang senjata api, bahkan tidak diperkenankan untuk punya.
Kok bisa begitu? Yah wajarlah, sebab hukum negara ini melarang orang-orang itu dan kita semua yang dicap “masyarakat awam” untuk memiliki senjata api. Alasannya pun bagus, senjata api bukan mainan! Ia adalah alat yang akan menimbulkan bahaya besar bagi manusia kalau sampai jatuh di tangan orang yang salah. Di tangan orang yang salah! Siapa?Kita?! Bukan, bukan begitu maksudnya…Kita kan tidak bisa membedakan siapa orang yang salah dari yang benar sebelum orang itu melakukan tindakan yang salah. Bukankah lebih baik jika senjata api lebih baik tidak dipegang oleh semua orang, jaga-jaga kalau di antara mereka nanti ternyata ada “orang yang salah.” Nalar yang bagus! Akan tetapi, ternyata nalar itu tidak dijalankan dengan konsisten di sini. Hukum ternyata mengizinkan, bahkan memberikan senjata api, kepada kelompok khusus dalam masyarakat yang katanya demi tujuan keamanan dan pertahanan. Hanya kelompok khusus itu yang dipersilahkan punya senjata api. Apa artinya? Mereka dianggap sebagai manusia-manusia pilihan yang tidak berpotensi, atau setidaknya berpotensi lebih kecil, untuk menjadi “manusia yang salah.”
Read the rest of this entry »